Harta Akan Ditanya Asal dan Penggunaannya
Hadits
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ»
Dari Abū Barzah al-Aslamī raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan; dan tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan sampai usang.”
Takhrij
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzī (no. 2417). At-Tirmidzī berkata: “Hadits ini ḥasan ṣaḥīḥ.” Al-Albānī menilainya ṣaḥīḥ.¹ Dalam as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah no. 946, al-Albānī membahas riwayat Ibn Mas‘ūd yang semakna dan menjadikan hadits Abū Barzah ini sebagai penguatnya.²
Fawaid
1. Harta satu-satunya perkara yang ditanya dua kali
Umur, ilmu, dan tubuh masing-masing ditanya satu pertanyaan. Harta ditanya dua: dari mana dan ke mana. Al-Mubārakfūrī menjelaskan kedua pertanyaan itu ketika mensyarah hadits Ibn Mas‘ūd yang memuat kalimat yang sama:
وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ
وَفِيمَ أَنْفَقَهُ
“Dan tentang hartanya, dari mana ia peroleh”, yakni apakah dari yang haram atau yang halal. “Dan ke mana ia belanjakan”, yakni dalam ketaatan atau kemaksiatan.³
Dengan demikian, harta yang masuk dari jalan halal belum tentu selamat, sebab masih ada pertanyaan kedua tentang pembelanjaannya.
2. Pemeriksaan harta berlaku bagi setiap hamba
Sabda beliau menyebut ‘abd (seorang hamba) tanpa pengkhususan. Kaya dan miskin, pedagang dan pegawai, semuanya masuk dalam cakupannya.
3. Pertanyaan pertama menjadi dasar Bab 2 sampai Bab 7
“Dari mana” dijawab oleh seluruh rambu halal-haram dalam buku ini: riba, gharar, objek haram, dan kecurangan. Pertanyaan kedua, “ke mana”, dijawab oleh bab-bab tentang utang, amanah, hibah, wakaf, dan infak.
4. Tubuh yang usang juga termasuk modal
Al-Mubārakfūrī menerangkan lafaz ablāhu (ia gunakan sampai usang) dengan perumpamaan pakaian:
كَأَنَّهُ مِنْ بَلِيَ الثَّوْبُ وَأَبْلَاهُ، فَكَانَ الشَّبَابُ فِي قُوَّتِهِ كَالثَّوْبِ الْجَدِيدِ فَلَمَّا ذَهَبَ الشَّبَابُ وَضَعُفَ الْبَدَنُ فَكَأَنَّمَا بَلِيَ الثَّوْبُ
Seakan-akan diambil dari ungkapan “pakaian itu usang” dan “ia membuatnya usang”. Masa muda dalam kekuatannya bagaikan pakaian baru; ketika masa muda berlalu dan badan melemah, seakan-akan ia telah usang.⁴
Tenaga yang dipakai untuk bekerja adalah bagian dari tubuh yang kelak ditanya. Pekerjaan yang halal dan sungguh-sungguh menjadi jawaban yang baik atas pertanyaan ini.
Endnotes
1. At-Tirmidzī, Sunan at-Tirmidzī, taḥqīq Aḥmad Syākir dkk., jil. 4, hlm. 612, no. 2417, dengan keterangan ḥukm al-Albānī: ṣaḥīḥ. Lafaz penilaian at-Tirmidzī sama pada taḥqīq Basysyār ‘Awwād Ma‘rūf, jil. 4, hlm. 217.
2. Al-Albānī, Silsilat al-Aḥādīts aṣ-Ṣaḥīḥah, jil. 2, hlm. 629, no. 946.
3. Al-Mubārakfūrī, Tuḥfat al-Aḥwadzī, jil. 7, hlm. 85, pada syarah hadits no. 2416.
4. Al-Mubārakfūrī, Tuḥfat al-Aḥwadzī, jil. 7, hlm. 86, pada syarah hadits no. 2417.
Komentar Pembaca
Bagikan tanggapan atau pertanyaan yang masih berkaitan dengan isi artikel.
Jadilah pembaca pertama yang memberikan tanggapan.